 | makam inggris ini dkt bgt dr rmh sy mas..kira2 100 meter.. gerbang itu kan br dibangun.. klw org2 didkt sana,,terbiasa menyebutnya "kuburan belanda",,bkn makam inggris.. sy jg br tw klw ternyata itu makam inggris stlah dipasang gerbang,,slm ini tw nya jg kuburan belanda..he
keren fotonya... |
 | dapat aja mas yoan, btw mau nanya mas,...dibali tuh ga ada pemakaman belanda ato inggris ya? aku bingung nyari kemana, bertanya pada siapa pun jg ga tau |
 | care to send these pics to British Embassy? they might care... |
 | did you find any Indian heritage there? considering it's a British plantation ... |
 | They were too young to die ... |
 | dulu emg gak ada gerbang mas.. gerbang yg mas foto itu,,dulunya cm pagar pembatas biasa.. emang byk yg rusak,,soalnya gak terawat.. truznya,,sm warga skitar sana,,dijadikan t4 olahraga, seperti t4 main volly.. jdnya makam2 itu diinjek2 aj.. sayang bgt sbnrnya.. |
 | a little bit of history. Great album |
 | youfy wrote on Jul 25, '09 Loh, ada yang bangkit dari kubur ?? :D |
 | They were too young to die ...  Like outbreaks in several city near coast line. The visitors suffered the malaria, poor sanitary, dysentry, or conflicts with the native. See the memorial inscription below: “Sacred To the Memory of Mr. Thomas Whittenberry Who departed this life The 28th of August 1802 Aged 18 Years”
Memory of Ann Herries Johnstone Christened April 17th 1790 and Departed this Life on the 9th June 1795
Sacred To the Memory of William Cox Born 10th December 1802 Died on the 9th October 1804
Sacred To the memory of Phillip Cox Born 27th May 1804 Died 16th July 1804
“Sacred To the Memory of Captain Robert Hall of the Bengal Service Who departed this life At Fort Marlborough In the year 1820 Aged 30 Years”
|
| dipodipo wrote on Jul 26, '09, edited on Jul 26, '09 Lubang2 itu unik ya, saya jadi ingat batu dakon, kira2 fungsinya apa ? |
| Mas , apa yang dipakai untuk membandingkan tulisan yang baru dengan aslinya ? Kalau yang ini kelihatannya tulisannya kasar ya. |
 | Mas , apa yang dipakai untuk membandingkan tulisan yang baru dengan aslinya ? Kalau yang ini kelihatannya tulisannya kasar ya.  Ini makam keluarga, ada 4 jenazah dalam satu makam yang berbentuk tomb. Kecurigaan muncul saat saya observasi. Batu yang dipakai di makam ini berbeda dengan makam lainnya: kalo dilihat lebih teliti lagi sudah ada tambahan campuran semen. Waktu itu saya kira hal wajar untuk melakukan konservasi, namun setelah melihat catatan seorang Belanda, Richard Davies, yang berkunjung ke Bengkulu akhir 2002, ternyata teks pada batu orisinal berbeda dengan kondisi pasca konservasi. Kondisi saat ini (pasca konservasi): "Wm. Baillie Aug 1810 10 Days" Original Text: “Sacred To the Memory of Wm Baillie Who departed his life The 31st August 1810 Aged 10 days” Ada juga yang parah karena menyebut bulan yang seharusnya tertulis "Feb" menjadi "Peb". |
 | Kalau yang ini kelihatannya tulisannya kasar ya.  Saya tidak tahu juga font aslinya seperti apa (yang jelas bukan Times New Roman Picisan hehehe). Namun ada inskripsi yang menurut saya masih menggunakan font yang sering dipakai ala buku2 djadoel (mungkin era awal abad-19):  “Sacred to the Memory of Edward Arkins Esqre. Who died on the 28th of March 1812 Aged 46 Years” Inskripsi ini sepertinya tidak mengalami banyak pemugaran, seperti inskripsi keluarga Si Baillie. Lihat gaya font "berekor"-nya. |
 | berapa luas ini yah tempatnya? btw yang di background itu yang paling kiri bertingkat, suda ditumbuhi taneman??? bisa cepet rusak ntar :( |
 | panjenengan kok remen 'nyekar' nggih? plesiran ing makam-makam ...hehehehehe |
 | What does ESQ stand for? I found this word carved on a tombstone of British man at Taman Prasasti ...
Btw, I think we should go to the old Dutch cemetery in Subang. They might preserve the tombstones better than here...as it seemed to be a kind of restricted area... There, we can treasure the history of plantations in Subang... |
| dipodipo wrote on Jul 26, '09, edited on Jul 26, '09 Jadi disana bahan untuk tempat tulisan tidak memakai marmer / batu alam lainnya ? Saya lihat ad ayang bahannya seperti semen, ada yang dari batu. Wah dah gak ikut nanyanya banyak nih :D Yang saya perhatikan warna hurufnya sama semua. Mengerikan ya. |
| What does ESQ stand for? I found this word carved on a tombstone of British man at Taman Prasasti ...
Btw, I think we should go to the old Dutch cemetery in Subang. They might preserve the tombstones better than here...as it seemed to be a kind of restricted area... There, we can treasure the history of plantations in Subang...  ESQ - Esquire. 1. Nama majalah :D 2. Sebutan untuk orang2 Inggris yang gelarnya masih dibawah Sir.
Tapi kok disini juga ditulis Esqr. Saya kurang faham tulisan Ingris kuno, jadi tidak tahu apakah Esqr dan menulis menyingkat February menjadi Peb umum dipakai pada jaman itu, atau ada kesalahan waktu copy paste.
|
 | berapa luas ini yah tempatnya? btw yang di background itu yang paling kiri bertingkat, suda ditumbuhi taneman??? bisa cepet rusak ntar :(  Hmm kira2 3.750 m2 chippo... Iyah tanaman merambat itu memang bisa cepet merusak dinding... Ada yang lebih parah karena makam sampai jebol karena tetumbuhan: |
 | wah..............ngeri gue Mas Mahandis kok lage banyak membahas...."rumah masa depan" terus nech............lumayan untuk mengingatkan kita bahwa di dunia ni tak ada yang kekal |
 | jadi inget --dosa dosa masa lalu neh mas...ihik ihkihikikihk...huuuaaaaaaaa |
 | jadi inget --dosa dosa masa lalu neh mas...ihik ihkihikikihk...huuuaaaaaaaa, btw kenapa makam org eropa selalu ada yang satu keluarga dalam satu nisan ya???, sperti di ex pg kadipaten ada yang satu keluarga, apa karena wabah atu gimana ya..mohon pencerahannya |
 | nah blum jawab pertanyaan dari Ay....Mas Mahandis masih utang satu jawaban |
 | ohh..........iya ..ya ....bisa juga gitu , orang barat kan rasa kedekatannya tinggi ya..hehehe tank top eh thank you mas |
 | astagaaaaa (@@) yang ini knapa bisa ancur beginihhhh (@@) tapi ini dalam proses reservasi kannnnnnnnn ( mulay kuatir) apa pemda bengkulu udah notice yahh?? kalo memang banyak tempat2 kayak begini di bengkulu, sayang banget kalau hilang tanpa bekas nantinya |
 | yang bentuknya seperti tugu di deretan sebelah atas " lonely lady" is that a tombstone? that one is interesting, no encription on it? |
 | Yang ini yah?  Iyah ini memang makam yang menderita... kepala dan tangannya hilang...udah gitu inskripsi makamnya hilang...jadi ngga tau siapa sebenernya yang dimakamkan disini. Kemungkinan makam dengan statue ini akhir abad ke-19... |
 | yang bentuknya seperti tugu di deretan sebelah atas " lonely lady" is that a tombstone? that one is interesting, no encription on it?  Oh maap yang di atas "lonely lady" yah seperti pilar ini.....  Iyah ini makam juga, sama nasibnya..inskripsi hilang... Simbol pilar banyak digunakan dalam makam2 eropa sebagai representasi makna "kematian/kesedihan". Makam Brandes di Taman Prasasti Jakarta juga berbentuk unfinished pillar, dengan sentuhan ornamen Jawa..  |
 | Ini sebenarnya merupakan warisan sejarah bangsa yang tidak ternilai harganya. Sebuah negara atau wilayah yang tidak mempunyai sejarah sungguh kasihan sekali jika demikian. Di Bengkulen kita tidak hanya disuguihi atraksi bunga Reflesia Arnoldi, tetapi ada tempat wisata yang meanrik yang kalau dirawat dan direvitalisasi akan merupakan sumber devisa yang sangat berharga bagi daerah Bengkulen ini. Bukankah kita sekarang di era reformasi dan otonomi daerah? Tentu saja ini bisa dilakukan kerja sama misalnya dengan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia atau instansi lain yang menyediakan pakar-pakar warisan budaya kolonial atau kemungkinan besar dengan pemerintah Inggris. Bravo mas Yoan yang sudah mengangkat salah satu warisan berharga yang dilupakan pemiliknya. |
 | Hal ini terjadi karena ketidaktahuan pemiliknya. Saya jadi teringat dengan kisah pewayangan yang sudah dijawakan oleh Sunan Kalijaga. Ceritanya saat para Pandawa mukswa artinya naik ke swarga loka karena misinya di dunia untuk memberantas angkara murka para Korawa sudah selesai. Satu anggota Pendawa yang ga bisa mencapai kesempurnaan yaitu Orang pendawa yang paling tua, Yudhistira. Untunglah ia ketemu Sunan Kalijaga dan ditanya apakah yang Anda bawa itu? Itu adalah Jimat (Jamus) kalimasada. Apakah Anda bisa baca itu jamus Kalimasada? Kata Yudhistira: jangankan baca, membuka pun saya tidak pernah.Bolehkah saya membukanya? Boleh silakan kata Yudhistira. Ketika dibuka dan dibacakan apa isinya, maka bukan main girang hati Yudhistira. Ternyata miliknya yang berharga yang diabaikan begitu saja selama ini, mengandung hikmah yang luar biasa bagi kehidupan , kesejahteraan dan kebahagiaan dirinjya dan bagi umat manusia. Yudhistira merasa menyesal, kenapa tidak dari dulu mengetahui manfaat miliknya yang berharga tersebut. Setelah itu ia pun mukswa dengan sempurna ke swargaloka. Itu adalah cuplikan kisah "Kalimasadha Kawedar" cerita Jawa 9Indonsia) asli merupakan kearifan budaya lokal. Mudah-mduahan pemda Bengkulu dapat belajar dari kisah ini. Hehehehe... ga menggurui loh mas Yoan.... have a nice day. |
 | Dear owner this blog. I really respect and apreciate what you do in my beloved home town. Many time I loking for the great blog and site about this history. And from all of them you have the best one. I dedicate and gratefull thank`s, and allow to me to republish on be half your name this article, so many people in world wide will be know about this history. Once again, on be halg youth of bengkulu esspecial from yout from rejang land, we are waiting the blogger like you are. Great job brother. Two thumbs for you. regard Tun Jang Http://rejang-lebong.blogspot.com |
 | yes pls help Bencoolen Heritage ! |
 | Dear owner this blog. I really respect and apreciate what you do in my beloved home town. Many time I loking for the great blog and site about this history. And from all of them you have the best one. I dedicate and gratefull thank`s, and allow to me to republish on be half your name this article, so many people in world wide will be know about this history.Once again, on be halg youth of bengkulu esspecial from yout from rejang land, we are waiting the blogger like you are. Great job brother. Two thumbs for you.regardTun JangHttp://rejang-lebong.blogspot.com  Thank you Mas Akbar for visiting my weblog. It would be my compliment.
You told me that you have searched all information about historical sites in Bengkoelen and found my weblog coincidently, it could be our destiny. I’m interested about the history, especially military history and architecture what went before. It represents into my weblog that contains the historical sites that I visited in my occasional travel. However, it is a humble weblog, it may contain my shortcomings, please give me your remark if there were a mistakes in my citations or thought.
I would allow everyone to utilize my writings and photographs for developing and diffusion of geographic knowledge :)
Warmest regards, Yoan
|
 | dear mr yoan? Why dont try to write about Thosmas parr monument? Its pass in fort marlborough article? or just I coinsident cannot find? If you have it, can u share any link from you blog 4 me ? This the monument located in front of fort marlborough : This article posting when we are really worry about what happen a few months ago, the governour huntying treasure tha he believe present at ground of the thomas parr monument. This article to support yayasan lembak to try stop the crazy plan. http://rejang-lebong.blogspot.com/2008/05/heritage-bengkulu-dalam-ancaman_04.htmlMay be with your reaserach in many litelature will can complite this history. Due many version about thomas parr now to publish, include the legend story. (Cerita rakyat yang di tulis sejarawan tanpa reference yang kemudian banyak dipercaya oleh banyak orang, dan menurut saya pribadi diragukan kebenarannya karena berdasarkan cerita lisan sementara yang menulis dan bercerita di jaman yang berbeda tanpa membandingkan ke litelature barat di Inggris) Pls be apology with my broken english, lol :) |
 | Tentang Monumen Thomas Parr, saya pikir sudah banyak yang menulis mas, informasinya cukup lengkap. Yang menjadi pertanyaan: kemanakah inskripsi yang ada dalam monumen tersebut?
Saya juga sudah membaca artikel2 tentang ide gila mencari harta karun di bawah monumen itu. Saya melihat ada dua pandangan: pandangan orang tua yang masih mempercayai legenda itu, dan pandangan anak muda yang lebih realistis menyikapi hal tersebut.
Memang pemerintah propinsi sepertinya tidak punya visi tentang pelestarian cagar budaya, ironisnya balai pelestarian peninggalan purbakala bengkulu sepertinya tidak punya daya lagi untuk menyelamatkan pengerusakan2 itu.
Saya hanya berharap kepada masyarakat pemerhati sejarah dan cagar budaya untuk menyelamatkan "ingatan" kita. Kota tanpa bangunan tua itu seperti orang yang hilang ingatan.
Kita jangan lupa bahwasannya membiarkan pengerusakan cagar budaya itu merupakan kejahatan juga. |
| |